Si
Cantik Peninggalan Negeri Oranye di Tanah Sunda
Siapapun
pasti akan terpesona dan betah memandangi kecantikan yang dimilikinya, bukan
karena tubuh dan wajahnya yang elok dan indah yang membuat ia disukai oleh
banyak orang. Melaikan hamparan rerumputan hijau yang membentang luas, barisan
pohon pinus yang menjulang tinggi menghadap langit, serta hembusan udara segar
yang dapat menyejukan kalbu. Ya, ia adalah taman rekreasi yang terletak di
kawasan utara kota Sukabumi.
Tempat
yang indah nan mempesona itu bernama selabintana, bagi penduduk sukabumi tentu
sudah tak asing lagi dengan objek wisata yang satu ini. Tempat yang sudah
bediri sejak zaman Belanda ini memang
sudah menjadi destinasi wisata favorit bagi para penduduk lokal maupun wisatawan
yang berasal dari luar kota, mereka mengunjungi tempat ini untuk menghabiskan
waktu bersama keluarga atau bahkan hanya sekedar melepas pengat.
Wisatawan
tidak hanya dimanjakan oleh pesona alam di selabintana, tapi juga akan mendapatkan
jejak sejarah peninggalan Belanda di taman dengan latar belakang Gunung Gede –
Pangrango ini. Selabintana terletak 7 kilometer di sebelah utara kota Cikole
atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Sukabumi. Kawasan ini ditemukan
oleh seorang pengusaha teh berkebangsaan Belanda, bernama AAE Lenne .Jiwa
bisnisnya mendorong Lenne untuk memoles kawasan ini menjadi tempat
peristirahatan untuk para petinggi perkebunan Belanda. Pada masa pemerintahan
negeri oranye di Nusantara, Sukabumi terkenal sebagai tempat peristirahatan bagi
petinggi perkebunan Belanda. Pada saat itu Negara yang terkenal dengan bunga
tulipnya itu menjadikan Sukabumi sebagai pusat perkantoran untuk mengurus
perkebunan yang tersebar di beberapa tempat. Tempat peristirahatan yang
dikelilingi perkebunan dan disuguhukan keindahan pemandangan gunung Gede Putri
Pangrango ini mampu memikat hati para pengusaha Belanda dan menjadi tempat
favorit bagi para petinggi perusahaan perkebunan Belanda. Melihat perkembangan
yang pesat itu Lenne selaku pendiri kemudian mengubah tempat istirahat ini
menjadi sebuah hotel pada tahun 1900an dengan nama Hotel Selabintana dan
menambahkan fasilitas berupa kolam berenang. Pada tahun 1914, AAE Lenne
menyerahkan Hotel Selabintana kepada anaknya GE Lenne. GE Lene kemudian
mengangkat Losbakker menejer berkebangsaan Belanda untuk mengelola Hotel
Selabintana. Bakker berhasil meningkatkan kunjungan warga Belanda ke selabintana.
Semyum
yang tergaris dari bibir para pengunjung juga menjadi salah satu pemandangan
yang bisa menambah nuansa damai yang terpancar di tempat ini. Berkumpul bersama
keluarga memang menjadi kegiatan yang menyenangkan, berlari kesana kemari,
menyantap hidangan yang telah disiapkan dari rumah di bawah teduhnya pohon
pinus memang manjadi kenikmatan tersendiri. Setidaknya itu lah yang dirasakan
oleh seorang remaja perempuan benama Afifah ini meski menempuh jarak yang cukup
jauh untuk sampai ke tempat ini, gadis manis asal bekasi ini terlihat ceriah
dan bersemangat saat mengelilingi taman ini. “Taman ini bagus suasananya adem,
sejuk, karena pemandangannya yang bagus banget
di sini juga bisa buat photo–photo”. Jawabnya saat dimintai pendapatnya
tentang taman Selabintana, Afifah tidak sendirian ia ditemani oleh ibunya yang
bernama Meilani, beliau mengaku mengajak putri nya ke taman ini secara
kebetulan, awal nya ibu Meilani bersama putrinya hanya menemani suaminya yang
sedang mengikuti acara persusahaan yang berdekatan dengan lokasi selabintana.
Hal senada juga dilontarkan oleh pengunjung lain ketika ditanya megenai tempat
ini, “pemandangannya bagus suasananya bersih”, tutur pria asal jawa tengah ini
yang sekarang menetap di sukabumi, mas Geva, begitulah ia akrab disapa. Ia
menyarankan agar pemerintah bisa lebih mempromosikan taman ini dan
mengoptimalkan dengan menambahkan fasilitas–fasilitas yang ada di taman
rekreasi ini.
Teman
rekreasi nampaknya tak terlepas dari para pedagang, itu lah yang terjadi di
Selabintana. Taman yang selalu ramai dikunjungi wisatawan ini juga menjadi
tempat para pedagang untuk mengais rezeki. Macam-macam dagangan berjejer, suara
para pedagang pun saling bersautan untuk memancing pembeli. Tak terkecuali pak
Misbah, lelaki paruh baya ini adalah salah satu dari para pedagang yang mencoba
peruntungan mecari nafkah di selabintana. Ia menjual rujak tumbuk, walau
tangannya yang sudah menua tapi tenaganya masih cukup kuat untuk menumbuk
buah-buahan, serta langkah kakinya yang mulai gemetar tak mengahalanginya untuk
berjuang menjalani kerasnya kehidupan. Kake berumur 54 tahun ini biasa
berkeliling memikul dagangannya dari pukul 10 pagi sampai pukul 4 sore,
rutinitas ini sudah ia lakoni hampir 13 tahun lamanya. Ketika ditanya tentang
penhasilannya, kake yang ramah ini menjawab dengan senyum, “Yah, kalo lagi rame
sih bisa sampai tiga ratus ribu”. Mengenai Selabintana, pak Misbah nampaknya
juga setuju dengan pendapat para wisatawan yang mengatakan taman ini begitu
indah, ia juga mengapresiasi pengelola karena berhasil mempertahankan keasrian
keindahan taman ini dari semenjak ia pertaman kali berjualan sampai sekarang
Selain
tempatnya yang tak jauh dari pusat kota sukabumi, yang menjadikan taman ini banyak
dikunjungi wisatawan adalah harga tiketnya yang tidak terlalu menguras kantong.
Dengan merogoh kocek sebesar 5,000/orang, 13,000 utuk motor, dan 32,000 untuk
mobil, pengunjung sudah dapat menikmati pesona selabintana ini. Pak Suhandi
adalah orang yang bertanggung jawab untuk masalah penjualan tiket. “untuk hari
biasa sih tidak terlalu banyak mungkin sekitar 5 / 6 mobil, 15 untuk motor
(tiket) yang terjual”, perkiraan pria berkumis ini. Menurut beliau untuk hari
liburnya total tiket yang terjual bisa mencapai 60 tiket. Kelonjatan pengunjung
terjadi pada saat H+1 - H+2 hari raya lebaran, “pada liburan (lebaran) itu
bahkan bisa sampai full”, menurut pengakuan penjaga tiket ini.
Tempat
yang begitu indah ini memanglah rancangan alam yang begitu luar biasa, tapi
peran dari pengelola juga tak bisa dipandang sebelah mata. Adalah bapak Yusan
selaku staf pengelolah taman ini. Pak yus begitu ia akrab disapa, menyatakan
jika taman ini sudah dikelolah sepenuhnya oleh anak negeri, tetapi tetap ingin
mempertahankan ciri khas peninggalan negeri kincir angin itu. “peninggalannya
itu rumah bungalow yang masih asli dan belum pernah direnovasi”, kata pas Yusan
sembari menunjuk bangunan tua yang masih bediri kokoh. Meski taman ini identik
dengan pemandangan alamnya, pihak pengelola berencana untuk membuat wahana
pernaminan outbound, “Kalo rencana mah ada tapi itu gatau kapan, mungkin
menajemen yang menentukan waktunya, tapi yang jelas itu ada”, tegasnya.
Kini
si cantik tak muda lagi, tanahnya mulai tercemar oleh tangan-tangan
takbertanggungjawab, banyaknya polusi yang mengotori udara menjadikan udaranya
tak senikmat dulu, eksistensinya mulai tergerus dengan persaingan tempat wisata
yag modern. Dulu ia menjadi primadona dan sekarang pun masih, tapi apakah hari
esok masih menjadi kepunyaannya ?, masihkah anak cucu kita sempat menikmati surga
Sukabumi ini ?


Penggunaan kata masih ada beberapa yang tidak baku. Tapi secara frase dan bahasa sudah baik. Mungkin lebih diperhatikan lagi dalam pengetikan karena ada beberapa kata yang harusnya baku menjadi tidak baku.Good luck for you. :)
BalasHapus