Rabu, 16 Desember 2015

06.12
1



Si Cantik Peninggalan Negeri Oranye di Tanah Sunda

 Siapapun pasti akan terpesona dan betah memandangi kecantikan yang dimilikinya, bukan karena tubuh dan wajahnya yang elok dan indah yang membuat ia disukai oleh banyak orang. Melaikan hamparan rerumputan hijau yang membentang luas, barisan pohon pinus yang menjulang tinggi menghadap langit, serta hembusan udara segar yang dapat menyejukan kalbu. Ya, ia adalah taman rekreasi yang terletak di kawasan utara kota Sukabumi.
Tempat yang indah nan mempesona itu bernama selabintana, bagi penduduk sukabumi tentu sudah tak asing lagi dengan objek wisata yang satu ini. Tempat yang sudah bediri sejak zaman Belanda ini  memang sudah menjadi destinasi wisata favorit bagi para penduduk lokal maupun wisatawan yang berasal dari luar kota, mereka mengunjungi tempat ini untuk menghabiskan waktu bersama keluarga atau bahkan hanya sekedar melepas pengat.
Wisatawan tidak hanya dimanjakan oleh pesona alam di selabintana, tapi juga akan mendapatkan jejak sejarah peninggalan Belanda di taman dengan latar belakang Gunung Gede – Pangrango ini. Selabintana terletak 7 kilometer di sebelah utara kota Cikole atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Sukabumi. Kawasan ini ditemukan oleh seorang pengusaha teh berkebangsaan Belanda, bernama AAE Lenne .Jiwa bisnisnya mendorong Lenne untuk memoles kawasan ini menjadi tempat peristirahatan untuk para petinggi perkebunan Belanda. Pada masa pemerintahan negeri oranye di Nusantara, Sukabumi terkenal sebagai tempat peristirahatan bagi petinggi perkebunan Belanda. Pada saat itu Negara yang terkenal dengan bunga tulipnya itu menjadikan Sukabumi sebagai pusat perkantoran untuk mengurus perkebunan yang tersebar di beberapa tempat. Tempat peristirahatan yang dikelilingi perkebunan dan disuguhukan keindahan pemandangan gunung Gede Putri Pangrango ini mampu memikat hati para pengusaha Belanda dan menjadi tempat favorit bagi para petinggi perusahaan perkebunan Belanda. Melihat perkembangan yang pesat itu Lenne selaku pendiri kemudian mengubah tempat istirahat ini menjadi sebuah hotel pada tahun 1900an dengan nama Hotel Selabintana dan menambahkan fasilitas berupa kolam berenang. Pada tahun 1914, AAE Lenne menyerahkan Hotel Selabintana kepada anaknya GE Lenne. GE Lene kemudian mengangkat Losbakker menejer berkebangsaan Belanda untuk mengelola Hotel Selabintana. Bakker berhasil meningkatkan kunjungan warga Belanda ke selabintana.
Semyum yang tergaris dari bibir para pengunjung juga menjadi salah satu pemandangan yang bisa menambah nuansa damai yang terpancar di tempat ini. Berkumpul bersama keluarga memang menjadi kegiatan yang menyenangkan, berlari kesana kemari, menyantap hidangan yang telah disiapkan dari rumah di bawah teduhnya pohon pinus memang manjadi kenikmatan tersendiri. Setidaknya itu lah yang dirasakan oleh seorang remaja perempuan benama Afifah ini meski menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai ke tempat ini, gadis manis asal bekasi ini terlihat ceriah dan bersemangat saat mengelilingi taman ini. “Taman ini bagus suasananya adem, sejuk, karena pemandangannya yang bagus banget  di sini juga bisa buat photo–photo”. Jawabnya saat dimintai pendapatnya tentang taman Selabintana, Afifah tidak sendirian ia ditemani oleh ibunya yang bernama Meilani, beliau mengaku mengajak putri nya ke taman ini secara kebetulan, awal nya ibu Meilani bersama putrinya hanya menemani suaminya yang sedang mengikuti acara persusahaan yang berdekatan dengan lokasi selabintana. Hal senada juga dilontarkan oleh pengunjung lain ketika ditanya megenai tempat ini, “pemandangannya bagus suasananya bersih”, tutur pria asal jawa tengah ini yang sekarang menetap di sukabumi, mas Geva, begitulah ia akrab disapa. Ia menyarankan agar pemerintah bisa lebih mempromosikan taman ini dan mengoptimalkan dengan menambahkan fasilitas–fasilitas yang ada di taman rekreasi ini.
Teman rekreasi nampaknya tak terlepas dari para pedagang, itu lah yang terjadi di Selabintana. Taman yang selalu ramai dikunjungi wisatawan ini juga menjadi tempat para pedagang untuk mengais rezeki. Macam-macam dagangan berjejer, suara para pedagang pun saling bersautan untuk memancing pembeli. Tak terkecuali pak Misbah, lelaki paruh baya ini adalah salah satu dari para pedagang yang mencoba peruntungan mecari nafkah di selabintana. Ia menjual rujak tumbuk, walau tangannya yang sudah menua tapi tenaganya masih cukup kuat untuk menumbuk buah-buahan, serta langkah kakinya yang mulai gemetar tak mengahalanginya untuk berjuang menjalani kerasnya kehidupan. Kake berumur 54 tahun ini biasa berkeliling memikul dagangannya dari pukul 10 pagi sampai pukul 4 sore, rutinitas ini sudah ia lakoni hampir 13 tahun lamanya. Ketika ditanya tentang penhasilannya, kake yang ramah ini menjawab dengan senyum, “Yah, kalo lagi rame sih bisa sampai tiga ratus ribu”. Mengenai Selabintana, pak Misbah nampaknya juga setuju dengan pendapat para wisatawan yang mengatakan taman ini begitu indah, ia juga mengapresiasi pengelola karena berhasil mempertahankan keasrian keindahan taman ini dari semenjak ia pertaman kali berjualan sampai sekarang
Selain tempatnya yang tak jauh dari pusat kota sukabumi, yang menjadikan taman ini banyak dikunjungi wisatawan adalah harga tiketnya yang tidak terlalu menguras kantong. Dengan merogoh kocek sebesar 5,000/orang, 13,000 utuk motor, dan 32,000 untuk mobil, pengunjung sudah dapat menikmati pesona selabintana ini. Pak Suhandi adalah orang yang bertanggung jawab untuk masalah penjualan tiket. “untuk hari biasa sih tidak terlalu banyak mungkin sekitar 5 / 6 mobil, 15 untuk motor (tiket) yang terjual”, perkiraan pria berkumis ini. Menurut beliau untuk hari liburnya total tiket yang terjual bisa mencapai 60 tiket. Kelonjatan pengunjung terjadi pada saat H+1 - H+2 hari raya lebaran, “pada liburan (lebaran) itu bahkan bisa sampai full”, menurut pengakuan penjaga tiket ini.
Tempat yang begitu indah ini memanglah rancangan alam yang begitu luar biasa, tapi peran dari pengelola juga tak bisa dipandang sebelah mata. Adalah bapak Yusan selaku staf pengelolah taman ini. Pak yus begitu ia akrab disapa, menyatakan jika taman ini sudah dikelolah sepenuhnya oleh anak negeri, tetapi tetap ingin mempertahankan ciri khas peninggalan negeri kincir angin itu. “peninggalannya itu rumah bungalow yang masih asli dan belum pernah direnovasi”, kata pas Yusan sembari menunjuk bangunan tua yang masih bediri kokoh. Meski taman ini identik dengan pemandangan alamnya, pihak pengelola berencana untuk membuat wahana pernaminan outbound, “Kalo rencana mah ada tapi itu gatau kapan, mungkin menajemen yang menentukan waktunya, tapi yang jelas itu ada”, tegasnya.
Kini si cantik tak muda lagi, tanahnya mulai tercemar oleh tangan-tangan takbertanggungjawab, banyaknya polusi yang mengotori udara menjadikan udaranya tak senikmat dulu, eksistensinya mulai tergerus dengan persaingan tempat wisata yag modern. Dulu ia menjadi primadona dan sekarang pun masih, tapi apakah hari esok masih menjadi kepunyaannya ?, masihkah anak cucu kita sempat menikmati surga Sukabumi ini ?

1 komentar:

  1. Penggunaan kata masih ada beberapa yang tidak baku. Tapi secara frase dan bahasa sudah baik. Mungkin lebih diperhatikan lagi dalam pengetikan karena ada beberapa kata yang harusnya baku menjadi tidak baku.Good luck for you. :)

    BalasHapus